Pencegahan Stunting

Pencegahan Stunting Meningkatkan Kualitas Manusia Indonesia

Asian Games 2018 menyita perhatian dari masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? ajang bergengsi ini diadakan dengan meriah di Indonesia dan mendapat apresiasi dari banyak negara yang juga ikut serta.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa saat pertandingan, Indonesia selalu kalah saing dalam segi postur tubuh? Contohnya adalah saat pertandingan sepak bola. Atlet-atlet yang dimiliki oleh Indonesia sering kalah saing saat ada kontak tubuh antara atlet Indonesia dengan atlet dari negara lain.

Pertandingan Indonesia vs Iran

Ternyata, hal-hal semacam ini yang sedang diperhatikan oleh Kementerian Kesehatan di Indonesia. Perbedaan postur tubuh harus diminimalisir agar anak bangsa mampu bersaing di mata dunia. Maka dari itu, banyak kegiatan-kegiatan dari kementerian kesehatan yang berupaya untuk mengurangi angka stunting di Indonesia. Apa itu stunting?

Apa Itu Stunting?

Mungkin banyak dari pembaca yang belum tau istilah stunting. Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya dan keterlambatan pertumbuhan otak. Kondisi ini diakibatkan kurangnya asupan gizi dalam waktu cukup lama sebagai dampak dari pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi, terutama dalam periode emas 1000 hari pertama kehidupan (sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun).

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla mengatakan bahwa ada kurang lebih 9 juta orang yang terjangkit stunting di Indonesia. Jumlah itu mengakibatkan Indonesia menempati posisi nomor 4 sebagai negara dengan kasus stunting terbanyak. Hal ini tentunya bukanlah sebuah prestasi, namun sesuatu hal yang harus diperhatikan lebih jauh.

Pernyataan tersebut didukung dengan Pemantauan Status Gizi (PSG) pada tahun 2017 yang menunjukkan bahwa prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6% di atas batasan yang ditetapkan WHO (20%). Penelitian Ricardo dalam Bhutta tahun 2013 menyebutkan balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15%) kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup sehat setiap tahun.

Stunting Bukan Hanya Soal Ukuran Tubuh

Pencegahan stunting bukan bermaksud untuk mendiskriminasi orang yang bertubuh pendek. Namun, pencegahan ini dilakukan demi memenuhi angka kecukupan gizi masyarakat. Hal ini dikarenakan banyak masyarakat yang tidak terlalu peduli dengan adanya masalah stunting di sekitar mereka.

Pada kenyataannya, stunting harus lebih diperhatikan oleh masyarakat, karena stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia. Stunting juga merupakan ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang tentunya akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

Stunting dan Kemampuan Kognitif

Menurut Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, Permasalah stunting ini mengancam anak-anak Indonesia selaku aset bangsa. “Stunting bukan hanya masalah tubuhnya saja yang pendek, tapi juga secara kognitif (tidak optimal). Stunting juga dapat menyebabkan hambatan kecerdasan anak serta menimbulkan kerentanan terhadap penyakit menular bahkan tidak menular, serta penurunan produktivitas pada usia dewasa.” ujarnya

Wakil Presiden RI bahkan menegaskan bahwa stunting bukan hanya berdampak langsung pada keluarga, namun juga dapat berdampak menyeluruh pada pembangunan bangsa. Tentunya para orang tua tidak menginginkan seorang anak memiliki IQ yang rendah, tidak produktif, atau kalah bersaing. Jika jumlah stunting terus bertambah, maka kedepannya anak tersebut akan sulit bersaing sehingga angka kemiskinanpun akan bertambah.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr. Kirana Pritasari, MQIH mengatakan bahwa tinggi badan itu hanya salah satu point penting pencegahan stunting. Hal yang lebih utama adalah kognitif yang merupakan risiko paling berat untuk stunting. Jika terlambat, maka akan berdampak buruk bagi kemajuan bangsa. Tinggi badan itu hanya performance (penampilan), sementara kalau kognitif akan menyangkut daya saing dengan global. Hal ini yang dikaitkan dengan produktifitas, pembangunan dan ekonomi negara,

Maka dari itu, stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun juga masyarakat dan para orang tua. Pola asuh kepada anak adalah faktor paling besar untuk menuntaskan masalah stunting. Masalah ini jangan hanya dibebankan kepada sang ibu yang hamil atau menyusui saja. Remaja juga harus mengetahui cara mencegah stunting pada anak. Dengan begitu, remaja-remaja dapat merencanakan keluarganya dengan baik saat mereka sudah berkeluarga.

Yuk Ketahui Penyebab Stunting

Nah, setelah mengetahui pentingnya mencegah stunting, maka kita harus mengetahui apa penyebab dari stunting tersebut. Dengan begitu, kita dapat melakukan pencegahan-pencegahan stunting sejak dini. Berikut penyebab stunting yang wajib kita ketahui.

  1. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada praktik pemberian makan pada anak. Jika kondisi ibu pada masa remajanya kurang nutrisi, ditambah dengan tidak maksimalnya gizi yang diterima Ibu pada masa kehamilan dapat menjadi penyebab anak menjadi stunting.
  2. Kehamilan remaja.
  3. Infeksi pada ibu.
  4. Gangguan mental pada ibu.
  5. Jarak kelahiran yang pendek
  6. Hipertensi.
  7. Rendahnya akses layanan kesehatan dan sanitasi.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pola asuh dan kesehatan Ibu adalah faktor utama anak menjadi stuting. Hasil Riskesdas 2013 tentang konsumsi makanan ibu hamil dan balita tahun 2016-2017 menunjukkan bahwa 1 dari 5 ibu hamil di Indonesia kurang gizi, 7 dari 10 ibu hamil kurang kalori dan protein, 7 dari 10 Balita kurang kalori, serta 5 dari 10 Balita kurang protein.

Hal ini tentunya harus segera dicegah sejak dini. Remaja perempuan harus mulai menjaga kesehatannya dengan memakan makanan yang bergizi serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur lokal. Begitu pula dengan suami yang harusnya lebih memperhatikan kesehatan sang Ibu saat sedang hamil.

Tips Mencegah Stunting

Karena banyaknya data-data yang mengkhawatirkan tentang stunting di Indonesia, kementerian kesehatan sudah menaruh perhatian yang besar pada masalah stunting ini. Banyak penyuluhan dan kegiatan yang dilakukan di berbagai pelosok di Indonesia oleh kementerian kesehatan untuk mewujudkan indonesia sehat. Kementerian Kesehatan juga memberikan tips untuk mencegah stunting.

Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek menyatakan bahwa jika bayi lahir pendek, maka ia berpeluang tubuhnya pendek. Maka, anak itu butuh intervensi segera untuk mencegah agar tidak stunting, seawal mungkin, sedini mungkin. Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam mencegah stunting, yaitu melalui perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan air bersih.

1. Pola Makan

Tercukupi atau tidak kebutuhan gizi seorang anak yang akan lahir ditentukan sejak mendapatkan asupan makanan dari Ibunya saat sedang mengandung. Mencukupi kebutuhan gizi selama sedang hamil merupakan kunci agar saat anak lahir beratnya tidak kurang dari 2500 gram dengan panjang badan tidak kurang dari 48 cm.

Pola makan ibu dan anak sangat mempengaruhi stunting. Istilah “isi piringku” dengan makanan bergizi harus diperkenalkan kepada ibu dan anak sejak dini. Untuk anak-anak, konsumsi protein dalam masa pertumbuhan sangat dianjurkan. Namun, tetap diikuti dengan memakan sayur dan buah.

Setengah piring diisi dengan sayur dan buah. Setengahnya lagi diisi dengan protein nabati ataupun hewani dengan proposisi yang lebih tinggi dibandingkan karbohidrat. Ajarkan anak untuk mulai menyukai makanan bergizi sejak dini.

2. Pola Asuh

Sudah tidak asing bagi kita bahwa pola asuh anak mempengaruhi perkembangan anak tersebut. Untuk mencegah stunting, pola asuh ini sangat diperlukan. Dimulai dari edukasi tentang kesehatan reproduksi remaja, hingga pemahaman pentingnya pemenuhan gizi bagi sang ibu dan anak.

Ibu harus memahami hal – hal berikut dalam pola pengasuhan anak untuk mencegah stunting:

  1. Memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.
  2. Bersalin di fasilitas kesehatan
  3. Melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI).
  4. Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.
  5. Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI.
  6. Pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.
  7. Berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah.

3. Sanitasi dan Akses Air Bersih

Masih banyak tempat di Indonesia yang sulit untuk mendapatkan akses sanitasi dan air bersih. Ternyata, hal itu berpengaruh buruk bagi tumbuh kembang anak. Tidak adanya akses sanitasi dan air bersih dapat mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, anak perlu dibiasakan untuk mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir, serta tidak buang air sembarangan.

Catatan: Berbicara tentang tumbuh kembang anak, bukan hanya berbicara menambah berat dan tinggi badan anak saja. Faktor pola pengasuhan, lingkungan dan stimulasi juga mempengaruhi pencapaiannya.

Nah, demikianlah sekilas tentang stunting, penyebab, dan pencegahannya. Semoga dengan peningkatan kualitas manusia Indonesia melalui pencegahan stunting ini dapat menjadikan Indonesia lebih maju dan dapat bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Mari dukung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mewujudkan Indonesia sehat dengan mencegah stunting sedari dini!

Sumber:

  1. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180515/4025903/kenali-masalah-gizi-ancam-remaja-indonesia/
  2. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180404/1525437/stunting-ancam-masa-depan/
  3. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180407/1825480/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2/
  4. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180815/0027469/strategi-khusus-pemberian-makanan-bayi-dan-anak/
1

One Response

  1. Glen Hilyard
    October 8, 2018

Write a response