Otak Kiri dan Otak Kanan

Fakta dan Mitos Seputar Otak Kiri dan Otak Kanan

Kita sudah tidak asing lagi dengan perbedaan antara otak kiri dan otak kanan. Selama ini, masyarakat sudah terbiasa untuk membedakan kedua bagian otak tersebut. Seiring berjalannya waktu, perbedaanpun bertambah dengan adanya penelitian tentang otak tengah. Hal ini menyebabkan bertambahnya bagian-bagian otak menjadi tiga bagian yakni otak kiri, kanan, dan tengah.

Namun, ada beberapa paradiga yang salah tentang perbedaan antara otak kiri dan otak kanan. Paradigma ini banyak yang membuahkan diskriminasi terhadap salah satu fungsi otak. Padahal otak kiri dan otak kanan memiliki kegunaan yang sama pentingnya, tanpa harus diunggulkan salah satunya.

Paradigma Otak Kiri dan Otak Kanan Selama Ini

Otak Kiri VS Otak Kanan

Sumber gambar : psychologytodaycom

Jika dilihat dari apa yang sudah tersebar di masyarakat, kegunaan otak kiri identik dengan cara berpikir yang rasional konvergen, digital, sekunder, abstak, proporsional, analitis, linier, dan objektif. Sedangkan fungsi otak kanan cenderung berpikir relasional, divergen, analogi, primer, konkret, sintetik, hlistik, dan subjektif. Adapun otak tengah dikenal sebagai penghubung yang menyeimbangkan antara otak kiri dan kanan.

Otak tengah sering disepadankan dengan kecerdasan spiritual (SQ). Dalam konteks anak-anak, aktivasi otak tengah dapat ditandai dengan kemampuan membaca dengan mata tertutup. Namun, hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan adanya hubungan antara kemampuan membaca dengan mata tertutup dengan prestasi akademik, terlebih lagi kebaikan budi pekerti (akhlak).

Pemahaman tentang otak tengah juga kadang dikaitkan dengan kecerdasan spiritualis. Banyak yang beranggapan bahwa orang yang aktif otak tengahnya dipandang sebagai orang yang baik spiritualisnya. Misalnya, jika ia beribadah, ia tampak khusyuk dan bersungguh-sungguh. Berdasarkan anggapan ini, maka marak bermunculan pelatihan-pelatihan atas nama SQ dengan diikuti tangisan sedu sambil berdoa. Namun, banyak yang meragukan hal ini karena terkesan seperti “taubat dadakan” namun tidak berefek pada perubahan diri jangka panjang.

Dalam realita sosial, banyak yang menganggap bahwa otak kanan lebih unggul dibandingkan otak kiri. Misalnya, dalam dunia bisnis, banyak orang yang tidak berpendidikan tinggi memiliki banyak karyawan yang justru memiliki pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan owner perusahaan tersebut. Fenomena ini kemudian dibumbui pula oleh beredarnya buku-buku tentang cara kerja otak yang ditulis oleh orang-orang yang bukan pakarnya sehingga terjadi banyak kesalahpahaman. Buku-buku ini membuat orang-orang terdoktrin dengan paradigma pengusaha berotak kanan, karyawan berotak kiri. Generalis berotak kanan, spesialis berotak kiri. Penjual yang kanan, akuntan yang kiri, dan seterusnya.

Otak Kiri vs Otak Kanan

sumber gambar: irscom.com

Otak Kiri dan Otak Kanan dalam Pendidikan

Paradigma otak kiri dan otak kanan juga dikait-kaitkan dengan fenomena kiri-kanan. Misalnya orang yang berotak kanan dikaitkan dengan golongan kanan (baik) dan orang yang berotak kiri adalah “golongan kiri” (sesat). Orang berotak kanan selalu dikaitkan dengan kebaikan, dan orang berotak kiri selalu keluar dari kebaikan. Orang berotak kiri identik dengan lambat, sedangkan orang berotak kanan identik dengan cepat, dan seterusnya.

Dalam konteks pendidikan, hal yang lebih serius terjadi. Pendidikan – mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tiggi – “dituduh” terlalu memanjakan otak kiri dan kurang menaruh perhatian pada otak kanan. Hanya 10% mata pelajaran (musik, olahraga dan lain-lain) yang berpotensi pada aktivasi otak kanan. Semakin tinggi jenjang pendidikanpun makin berkurang kadarnya. Sehingga banyak yang beranggapan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, seseorang akan menjadi semakin kiri.

Pendidikan semakin diremehkan ketika Daniel Goleman menyatakan bahwa otak kiri (IQ) hanya menyumbang sebesar 20% untuk kecerdasan seseorang. Berbeda dengan otak kanan (EQ) yang mampu menyumbang hingga 80% dalam kesuksesan manusia. Anggapan tersebut menyebabkan banyak orang beranggapan bahwa pendidikan hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan peserta didiknya.

Fakta Seputar Perbandingan Otak Kiri dan Otak Kanan

Anggapan-anggapan demikian membuat orang yang menganggap dirinya termasuk “golongan berotak kanan” menjadi malas untuk meneruskan pendidikan. Mereka lebih memilih untuk menjadi pebisnis atau enterpreneur karena dianggap dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan pendidikan formal. Ketidaksukaan terhadap dunia pendidikan ini semakin kuat ketika melihat fakta income yang didapat melebihi orang yang berpendidikan tinggi secara formal. Misalnya, gaji yang didapat musisi dalam sekali manggung lebih besar daripada gaji profesor dalam sebulan.

Namun, mereka tidak memperhatikan bahwa ketika mereka sakit, mereka akan datang kepada dokter spesialis yang terpercaya. Tahukah Kamu? Dokter yang menjadi perantara kesembuhan tersebut tentunya telah menempuh pendidikan yang tinggi. Banyak pula orang yang berpendidikan tinggi (ber-IQ tinggi) sukses jauh melebihi mereka yang tidak berpendidikan tetapi mengaku sukses. Bj. Habibie dan Chairul Tanjung adalah dua di antaranya.

Faktanya, di dunia ini tidak ada orang yang seutuhnya hanya memiliki kemampuan dengan sebelah otak saja : kiri saja atau kanan saja. Bahkan dalam neurosains, tidak dikenal istilah dualisme otak karena setiap informasi diproses otak secara serentak (simultan) di seluruh bagian.

Otak Kiri vs Otak Kanan

sumber gambar: gudangkesehatan.com

Selain itu, otak memiliki hukum silang. Yang mana ketika otak sebelah kanan yang aktif, maka aktivitas didominasi sebelah kiri. Begitu pula sebaliknya. Jadi, membaca kitab suci dari kanan, pemindahan tali toga dari kiri ke kanan, menggunakan jalur kanan untuk mendahului dan sebagainya, pada dasarnya yang akif adalah otak kiri, bukan otak kanan.

Maka dari itu paradigma otak kiri, kanan, dan tengah adalah paradigma yang ketinggalan zaman. Orang dapat berpikir secara kreatif melalui pengembangan logika yang sangat sistematis. Demikian pula sebaliknya, orang dapat berpikir logis-kritis dengan kreativitas tingkat tinggi.

Baca Juga : Cara Meningkatkan Kreativitas

Berdasarkan paradigma tersebut, dapat disimpulkan bahwa otak pada dasarnya tidak mengenal dualisme, terlebih lagi trikotomi. Semua berjalan secara serentak karena antarmiliaran sel saling berkoneksi dalam merespon informasi yang diterima.

1

No Responses

Write a response