Penyebab Difteri, Gejala, dan Pencegahannya

Penyebab Difteri – Belakangan ini di Indonesia terdapat Kejadian Luar Biasa (KLB) yakni serangan dari penyakit difteri. Sebenarnya, difteri bukanlah penyakit baru melainkan sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan telah mewabah di banyak negara di dunia. Difteri juga disebut sebagai penyakit masa lalu. Penyakit ini diperkenalkan pada tahun 1920-an dan 1930-an. Namun, penyakit masa lalu ini kembali menyerang di tahun 2017. Selain Indonesia, negara lain yang terserang penyakit difteri pada tahun ini adalah Yaman dan Bangladesh.

Difteri merupakan infeksi menular yang menyerang saluran pernapasan atas. Infeksi ini dapat menular melalui udara sebagai media penularnya. Meskipun dapat menular melalui udara, penularan difteri tidak hanya terjadi saat kontak langsung. Meminum dari gelas yang belum dicuci, memakai handuk secara bergantian, terpercik ludah paisien difteri saat berbincang atau saat bersin, menyentuh tisu yang telah digunakan oleh pasien difteri juga merupakan beberapa cara penularan difteri. Penyakit difteri bukan hanya penyakit saluran pernapasan, penanganan yang tidak tepat atau kurang serius dapat menyebabkan bakteri menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Apakah Difteri Berbahaya?

Sumber: DoveMed.com

Penyebab difteri adalah bakteri Corynebacterium diptheriae.ditandai dengan adanya peradangan pada selaput saluran pernafasan bagian atas, hidung dan kulit. Penyakit ini sangat berbahaya serta dapat berujung pada kematian. Bakteri penyebab difteri membuat membran atau selaput yang dapat mengganggu bahkan menutupi saluran pernapasan sehingga dapat mengakibatkan kematian. Penyakit difteri dapat mengakibatkan kematian sebab tersumbatnya saluran nafas atas toksinnya yang bersifat patogen, gagal ginjal, menimbulkan komplikasi miokarditis (peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah), dan gagal sirkulasi.

Menurut Menkes, kesenjangan imunitas di kalangan penduduk suatu wilayahlah yang menjadi penyebab KLB Difteri. Terkait laporan KLB difteri, sejak 1 Januari s.d 4 November 2017 ditemukan sebanyak 591 kasus Difteri dengan 32 kematian di 95 Kabupaten/Kota di 20 Provinsi di Indonesia.

Penyebab Difteri

Sumber Rediff.com

  • Lingkungan yang kumuh serta tidak higenis
  • Memiliki gangguan sistem imun, seperti AIDS
  • Memiliki sistem imun yang lemah
  • Kurangnya pengetahuan ibu mengenai difteri
  • Tidak mendapatkan imunisasi lengkap sejak awal

Baca juga: Penyebab vertigo

 

Apa Saja Gejala Difteri?

gejala difteri

Sumber: beritagar.com

Seringkali difteri tidak memperlihatkan gejala apapun sehingga pasien tidak menyadari bahwa dirinya telah terserang difteri. Namun, pada umumnya difteri ditandai dengan gejala-gejala berikut.

  • Pembengkakan kelenjar limfa pada leher
  • Lemas
  • Pilek (cairan mengental bahkan bercampur darah)
  • Kesulitan bernapas
  • Napas terengah-engah
  • Demam
  • Terbetuknya lapisan abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel
  • Hidung berlendir
  • Batuk
  • Gangguan penglihatan
  • Perasaan tidak nyaman
  • Jantung berdebar, kulit pucat, berkeringat
  • Suara menjadi serak

 

Komplikasi yang Terjadi Akibat Difteri

Sumber: NewzPost.com

  • Gangguan jantung- Toksin difteri berpotensi menyerang jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau yang disebut miokarditis. Komplikasi ini dapat mengakibatkan detak jantung tidak teratur, gagal jantung, bahkan kematian mendadak.
  • Difteri hipertoksik – Difteri hipertoksik merupakan komlikasi yang parah. Komplikasi ini akan memicu pendarahan yang parah serta dapat mengakibatkan gagal ginjal.
  • Gangguan saraf – Toksin difteri dapat menyebabkan masalah seperti sulit menelan,  paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, masalah pada saluran kemih, serta pembengkakan pada saraf tangan dan kaki. Paralisis atau kelumpuhan pada diafragma akan membuat pasien kesulitan bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu justru setelah infeksi sembuh. Oleh karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap rawat inap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.

Sumber: SgLongMedicalCenter.com

  • Gangguan pernapasan – Toksik yang diproduksi oleh bakteri difteri akan merusak sel-sel. Sel-sel yang mati tersebut akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu adanya reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan melemah secara drastis bahkan dapat menyebabkan gagal napas.

 

 

Cara Mencegah Difteri

Sumber: mTatva.com

  • Menjaga kebersihan lingkungan.
  • Biasakan mencuci tangan sebelum makan.
  • Menutup hidung ketika bersin.
  • Menggunakan masker atau penutup hidung saat merasa kurang fit.
  • Hindari kontak langsung dengan pasien difteri.
  • Mengkonsumsi makanan bergizi.
  • Menjaga kebugaran tubuh dengan cara berolahraga.
  • Lakukan imunasasi difteri

 

 

Jenis-jenis Vaksin Difteri

Sumber: DeccanChronicle.com

Vaksin difteri tersedia dalam bentuk kombinasi dengan tetanus dan/atau pertusis. Secara internasional, vaksin difteri terdiri dari 4 jenis, yaitu DTaP, DT, Td dan Tdap. Vaksin DTaP dan DT diberikan untuk anak berusia 2 bulan hingga 7 tahun. Sedangkan vaksin Td dan Tdap diberikan untuk anak usia 7 tahun ke atas serta orang dewasa hingga usia 64 tahun.

1 Vaksin Difteri DTaP dan DT

Vaksin difteri jenis DTaP terdiri dari tiga komponen yaitu toksoid difteri (D), toksoid tetanus (T), dan komponen antigen bakteri pertusis (aP, acelluar pertusis). Imuisasi yang dilakukan di Indonesia biasanya dengan menggunakan vaksin jenis DPT atau DTP, perbedaan vaksin ini hanya pada komponen antigen untuk pertusisnya.

Vaksin DTP berisi sel bakteri pertusis utuh dengan ribuan antigen yang ada di dalamnya, termasuk antien yang sebenarnya tidak diperlukan yang disingkat dengan DTwP (Difteri, Tetanus, whole Pertusis). Banyaknya kandungan antigen di dalamnya seringkali menimbulkan reaksi bengkak, merah, panas inggi, serta di tempat suntikan. Sedangkan, vaksin DTaP berisi bagian bakteri yang tidak utuh alias hanya mengandung antige yag diperlukan saja sehingga tidak menimbulkan reaksi seperti DTP.

Bagi seseorang yang memiliki alergi terhadap vaksin pertusis, dapat digantikan dengan vaksin DT. Vaksin DT hanya terdiri dari toksoid difteri (D) dan tetanus (T).

Vaksin DTaP atau DPT dan DT, diberikan untuk anak yang berusia 2 bulan hingga 7 tahun. Pemberiannya tentu dilakukan secara bertahap. Dimulai sejak anak berusia 2 bulan (DTap I), 3 bulan (DTap II) dan 4 bulan (DTap III). Kemudian pemberian DTaP ulang dilakukan 1 tahun setelah DTaP III dan pada usia pra-sekolah, yakni saat usia 5-6 tahun. Vaksin difteri ini tidak dapat diberikan pada anak di atas 7 tahun juga pada anak yang sedang menderita sakit, baik sakit ringan atau serius.

Efek samping ringan yang mungkin terjadi setelah pemberian vaksin, berupa demam ringan, nyeri, kemerahan dan pembengkakan lokal di daerah penyuntikan. Biasanya efek samping dari pemberian vaksin ini hanya berlangsung selama 1-2 hari. Untuk menangani demam ringan dan nyeri, anak dapat diberikan obat pereda nyeri atau analgesik seperti paracetamol atau ibuprofen. Sementara untuk meredakan kemerahan juga pembengkakan, anak dapat dikompres air hangat atau dingin dan berlatih untuk terus menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai.

2 Vaksin Difteri Tdap dan Td

Vaksin difteri jenis Tdap (tetanus, difteri dan aselular pertusis) dan Td (tetanus dan difteri) merupakan jenis vaksin lanjutan yang diberikan setelah anak mendapat vaksinasi awal (DTaP atau DT) secara lengkap. Umumnya diberikan ketika anak sudah berusia 10-16 tahun. Setelah itu, diulangi lagi setiap 10 tahun sebagai penguat. Selain itu, vaksin jenis ini juga ditujukan untuk orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin difteri ketika anak-anak, petugas medis di rumah sakit dan wanita hamil terutama ketika memasuki usia kandungan 27-36 minggu.

Pemberian vaksin Tdap atau Td sebaiknya di ulang setiap 10 tahun sekali. Pengulangan vasin Tdap atau Td dapat menjaga kekebalan tubuh yang bisa saja menurun seiring berjalannya waktu. Vaksin ini masih bisa diberikan pada seserang yang sedang sakit ringan. Namun, untuk penyakit yang cukup serius, pemberian vaksin harus dilakukan setelah sembuh atau hingga dokter atau petugas medis mengizinkan untuk vaksinasi. Efek samping ringan vaksin Tdap dan Td serupa dengan efek samping vaksin DTaP atau DT.

 

Cara Penanganan Difteri

Jika gejala difteri muncul, jangan cepat panik. Berikut 2 cara yang dapat dilakukan untuk menangani penyakit difteri:

  • Hindari ontak dengan orang lain – Melakukan ontak dengan orang lain akan memudahkan penularan difteri mudah terjadi
  • Pergi ke dokter – Bila muncul gejala difteri, segera ke doter untuk penanganan yang tepat. Penanganan yang terlambat akan menimbulkan penyakit serius dan dapat berakibat fatal.

 

 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply